Dua Faktor Penentu Kemenangan pada 2014

Meski Pemilu 2014 masih sekitar tiga tahun lagi, para kandidat dalam pemilu legislatif ataupun pemilu presiden harus mulai mengambil ancang-ancang menggalang dukungan.

Lamanya pergerakan dari bawah terbukti mampu meraih suara karena sudah terciptanya suatu loyalitas. Selain faktor lamanya pergerakan, faktor yang tidak kalah menentukan ialah figur atau sosok calon. Faktor ini juga menjadi penting dalam pemilihan presiden.

Demikian yang disampaikan stakeholder manager yang menangani political marketing sejumlah partai dan capres, Ratna Marhaendra, Sabtu (8/1/2011), dalam acara Weekly Forum Political Marketing di Anomali Cafe, Jakarta.

“Untuk memenangi sebuah pilkada atau pemilu legislatif atau pemilu presiden perlu waktu. Tak bisa serta-merta seseorang meraih suara dalam waktu yang cepat. Perlu sedini mungkin menggalang dukungan,” ungkap Ratna.

Ia mencontohkan saat kongres salah satu partai “biru” yang memenangkan seorang figur lama dan bukannya nama baru.

“Saat itu salah seorang calon sangat mencolok sekali political marketing-nya. Nyaris 10.000:1 spanduknya dibandingkan kandidat lain. Semua alat political marketing-nya jalan,” ujar Ratna.

Alat political marketing yang digunakan, lanjutnya, ialah penggabungan alat kampanye iklan sampai dengan event.

“Nah, tapi nyatanya dia nggak kepilih. Kenapa? Karena calon itu baru muncul belakangan, sementara yang lainnya sudah memulai sejak dulu. Jadi, ada preferensi orang memilih teman dibandingkan orang pilih pimpinan. Dengan lama menggalang dukungan, pemilih akan menganggap sebagai teman bukan pemimpin,” ucap Ratna.

Selain upaya penggalangan dukungan yang perlu waktu, faktor lain yang tak kalah kuat adalah faktor figur atau sosok. Faktor ini penting terutama dalam pemilukada maupun pilpres. “Sosok masih penting bagi masyarakat kita,” ucapnya.

Namun, lanjut Ratna, sosok juga memerlukan waktu untuk dikenal, tidak bisa instan. Ia pun menegaskan untuk dikenal masyarakat tidak harus menggunakan uang banyak yang menyebabkan biaya kampanye membengkak.

“Perlu kreativitas calon dalam mengampanyekan dirinya. Contohnya saja ada salah seorang calon yang turun langsung ke lapangan di Palembang. Tiap ada orang kawinan dia datang, nyanyi, dan akhirnya kenal dekat dengan masyarakat. Cara ini murah tapi efektif,” ungkap Ratna.

Melihat peluang Pemilu 2914, Ratna memprediksi, Aburizal Bakrie bisa menjadi calon presiden yang kuat lantaran sudah sering menggalang suara ke daerah-daerah sejak sekarang. “Jadi wajar saja kalau dia di tahun 2014 nanti bisa jadi calon kuat,” katanya.

 

kompas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: