Indonesia Butuh Negarawan, bukan Politikus

Sosok yang dibutuhkan Indonesia untuk masa yang akan datang bukan mampu menyelesaikan masalah, melainkan tokoh yang mampu merangkul masyarakat untuk bersama-sama menyelesaikan masalah.

“Indonesia itu tidak butuh imam, tetapi butuh muazin. Siapa pun yang mampu menggerakkan masyarakat untuk bersama-sama menyelesaikan masalah, itulah yang cocok sebagai pemimpin kita,” ucap Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan dalam Seminar Nasional IKA UII ‘Merindukan Negarawan’, Jakarta, Kamis (24/5).

Anies menilai siapa pun dapat menjadi negarawan asalkan mengikuti hati nuraninya sendiri. Pemimpin itu harus datang dengan gerakan menyelesaikan masalah bukan datang dengan program.

Ia mencontohkan, jika program berjalan, pemimpin akan mendapat pujian. Tetapi jika gagal, akan mendapat cacian.

“Saat ini pemimpin itu datang dengan gerakan program bukan gerakan selesaikan masalah. Padahal kepemilikan itu bisa terjadi jika pemimpinnya mampu merangkul masyarakatnya,” katanya sambil tertawa.

Refleksi 14 tahun perjalanan reformasi tampak adanya kegelisahan terhadap arah dan masa depan bangsa. Banyak yang berteriak reformasi gagal. Tetapi, bagi Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri, bukan reformasi yang gagal tetapi kita yang harus bercermin kembali.

“Jangan salahkan reformasi, coba kita bercermin kembali apa sih yang sebenarnya kita kehendaki saat reformasi dahulu?itu yang harus kita kembalikan,” ucap Megawati yang menjadi keynote dalam seminar tersebut.

Mega menegaskan cita-cita reformasi sudah dilupakan. Sosok negarawan saat ini berganti dengan politikus. Karena itu, harus dikembalikan kembali sosok negarawan tersebut.

Indonesia memiliki banyak stok negarawan, tetapi bagaimana caranya negarawan ini muncul di tengah kerasnya persaingan politik.

“Indonesia memiliki banyak calon negarawan, mereka akan berjuang untuk kepentingan masyarakat bukan kepentingan pribadi atau kepentingan partainya. Jangan terjebak menjadi politic king,” katanya.

Hal tersebut juga ditegaskan James Riyadi yang merupakan CEO Lippo Group. Menurutnya, saat ini pengembangan hanya berorientasi pada pengembangan aset. Peningkatan kualitas manusianya bekum dilakukan secara maksimal.

James menunjukkan fakta tersebut dengan orientasi pada sektor pendidikan yang masih berbicara pada tataran ujian negara (UN).

“Kalau pendidikan kita masih saja berorientasi pada UN, UN saja kapan bisa membangkitkan generasi baru yang mampu berpikir kreatif yang bisa digunakan untuk membangun negara kita,” jelas James. (*/OL-10)

 

(media indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: